Mengikuti perkembangan informasi yang paling aktual mengenai kehidupan bangsa ini sungguh membuat hati menjadi miris. Betapa tidak, silih berganti terungkap betapa kesulitan hidup telah melanda warga negeri ini secara merata. Paling akhir, semalam diberitakan bahwa warga Nganjuk dilanda banjir dengan ketinggian air sudah mencapai satu meter, sementara di Jawa Barat puluhan penduduk kehilangan tempat tinggal karena diterjang angin puting beliung. Hampir setiap minggu, media menyampaikan kabar baru tentang kemarahan alam pada kita. Lantas bagaimana dengan kita yang sedang sedikit beruntung karena tidak turut dimurkai alam? Ternyata kondisinya juga tidak lebih mudah untuk dijalani. Akibat harga beras,minyak goreng, terigu dan kedelai yang terus melonjak dalam waktu yang hampir bersamaan , seorang pedagang gorengan di Jakarta memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Belum lama juga terkuak sebuah kabar memilukan tentang saudara kita di Makassar yang meninggal karena kelaparan.
Ironisnya, para pembesar dan orang kaya sibuk untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Berulang kali DPR menunda penetapan Undang-undang pemilu yang terbaru karena setiap partai memperjuangkan kepentingan partainya hingga titik darah penghabisan. Sementara orang yang sebelumnya telah dicurigai merugikan negara dalam kasus BLBI, membagikan uang sebesar tidak kurang dari 60 milyar Rupiah kepada orang yang seharusnya membuktikan kecurigaan tersebut. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.
Dalam situasi yang memang serba sulit seperti ini, besar sekali kemungkinan seseorang akan kehilangan akal sehatnya. Hanya keimanan yang kuat kepada Tuhannya yang dapat menguatkannya untuk bertahan. Sebagai seorang muslim, bersyukur Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada kita sebuah do’a untuk memohon perbaikan dalam segala urusan. Berikut kutipan dari buku mengandung banyak berkah, yang disusun oleh Majdi Sayyid Ibrahim yang berjudul 50 nasihat Rasulullah Untuk Kaum Wanita, edisi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh PT MIzan Pustaka 2007. Dalam bab 24 disampaikan sebuah nasihat yang tentu sangat berguna bukan saja bagi kaum wanita tapi juga bagi seluruh muslim.
Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah r.a., “Apa yang menghalangi kamu mendengarkan apa yang saya wasiatkan kepadamu? Jika waktu pagi dan sore ucapkanlah;
Yaa Hayyu yaa Qayyuum birohmatika astaghiist, ashlihlii syanii kullihi wa laa takilnii il; nafsii thorfata ‘aiin.
( Wahai DZat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon petolongan, perbaikilah untukku semua urusanku, jangan Engkau serahkan -urusanku- kepadaku sekalipun hanya sekejap mata).”
Beliau telah memberi nasihat yang sangat mahal kepada putrinya, tetapi putrinya lupa tidak melakukannya atau lupa belum melakukannya di hadapan beliau, lalu beliau menanyakan hal itu, “Apa yang menghalangi kamu mendengarkan apa yang saya wasiatkan kepadamu?” Kemudian, karena cinta dan kasih sayangnya kepada putrinya, beliau mengulangi lagi wasiat tersebut, “Jika kamu di waktu pagi dan sore, bacalah …” Dari sini terlintas dalam pikiran, betapa Fatimah putri Rasulullah pun menjalani kehidupan yang tidak mudah, pun ia lupa untuk melakukan nasihat ayahnya. Bagaimana dengan kita? sepertinya kita lebih banyak melalaikan nasihat-nasihat Rasulullah SAW. Ternyata Rasulullah tidak marah, karena cinta dan kasih sayangnya Rasulullah menegur kelalaian tersebut dan mengulang kembali nasihatnya.
“Wahai Zat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”
Imam Al Khaththabi mengatakan ketika seorang mengatakan ‘Yaa Hayyu, Yaa Qayyuum’, seakan dia meminta tolong kepada Zat yang memiliki hidup, bukan kepada selain-Nya, kepada Yang Kuasa melakukan seluruh urusan hamba-NYa, bukan kepada kekuatan selain-NYa.
“Birohmatika astaghiist. (Dengan rahmat-MU aku memohon pertolongan)”
Rahmat Allah meliputi segala sesuatu, diciptakan rahmat tersebut seratus bagian, satu bagian diturunkan di bumi ini. Dengan rahmat-Nya itulah seluruh makhluk, binatang dan setiap yang hidup di bumi ini bisa saling menyayangi. Sedangkan bagian yang lainnya akan diberikan kepada hamba-Nya di hari Kiamat nanti.
“Ashlihlii sya’nii kullihi, (perbaikilah untukku seluruh urusanku)”,
Perbaikilah seluruh persoalanku, perbaikilah kehidupan duniaku, perbaikilah kebangkitanku di akhiratku, perbaikilah kesehatanku, perbaikilah rezekiku, perbaikilah keturunanku, perbaikilah kerabatku, perbaikilah tetanggaku dan perbaikilah teman-temanku. Sungguh suatu ungkapan yang sangat agung yang bermakna tinggi, bagaimana tidak? Bukankah yang mengucapkannya adalah orang yang telah diberi kesempurnaan pembicaraan?
“Wa laa takilnii ilanafsii tharfat ‘aiin. (Jangan Engkau serahkan -urusanku- kepada diriku sekalipun hanya sekejap mata)”
Jangan Kamu tinggalkan aku, jangan Kamu biarkan aku, jangan Kamu serahkan aku pada diriku, sungguh diriku penuh dengan aib dan dosa, sungguh nafsuku itu selalu menyuruhku kepada kejahatan. Ya Allah, jadilah Engkau sebagai pendukungku dan penolongku atas nafsuku.
Demikianlah, wahai saudaraku, jika anda mencapai pada keberuntungan doa ini dan Allah SWT berkenan mengabulkan doa anda, seluruh urusan Anda telah terbenahi. Apakah ada masalah lain yang Anda butuhkan selainkebaikan keadaan di dunia dan akhirat?
Alhamdulillah, begitu mudah sesungguhnya kesulitan itu dan begitu indah kasih sayang Rasulullah yang telah meninggalkan kepada kita wasiat yang setelah empat belas abad memang masih sangat kita butuhkan.