Dikutip dari buku berjudul “Mendidik Anak Membaca, Menulis dan Mencintai Al Quir’an karya Ahmad Syarifuddin yang diterbitkan oleh Gema Insani Press, Jakarta, 2004.
Segala puji hanya patut menjadi milik Allah swt., Zat Yang Menurunkan Al Qur’an, mengajarkannya sekaligus membuatnya mudah dipelajari, di awal maupun di akhir. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , Muhammad saw., yang memiliki misi mengajarkan Kitab Suci Al Qur’an kepada Alam Semesta, berikut keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kemudian. Amin.
“Membaca” dalam Aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban. Ilmu baik yang kasbi (acquired knowledge) maupun yang ladunni (abadi, perennial) tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qiraat ‘bacaan’ dalam artinya yang luas.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Sementara kehadiran Al Qur’an melahirkan peradaban Islam, khususnya dipicu oleh daya kekuatan yang tumbuh dari semangat ayat-ayat Al Qur’an yang awal mula diturunkan yaitu perintah membaca dan menulis.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” ( QS Al Alaq: 1-5)
Dalam rangkaian wahyu Al Qur’an yang turun perdana ini, iqra’ atau perintah membaca merupakan kata pertama dan alangkah pentingnya kata ini ketika diulang dua kali.
Kata iqra’ yang terambil dari kata dasar qara’a pada mulanya berarti ‘menghimpun’. Arti kata ini menunjukkan bahwa bahwa iqra’ yang diterjemahkan dengan ‘bacalah’ tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Dalam kamus bahasa, ditemukan aneka ragam dari kata iqra’ tersebut, antara lain : ‘menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya’ dan sebagainya yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat ‘menghimpun’ yang merupakan arti akar kata tersebut.Perintah membaca, dengan demikian, berarti perintah untuk menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya.
Iqra’, demikian perintah Tuhan. Akan tetapi apa yang harus dibaca, tidak disebutkan di situ. Sementara kaidah bahasa Arab menyatakan bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebut objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dijangkau oleh kata tersebut. Oleh karena objek dari kata iqra’ tidak disebutkan maka objek kata tersebut mencakup segala yang terjangkau, baik bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun yang bukan, baik menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, ayat suci Al Qur’an, majalah, koran dan sebagainya.
Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan kalimat ‘bismi rabbika” ‘dengan menyebut nama Tuhanmu’. Hal ini memberikan isyarat bahwa membaca apapun disyaratkan harus ikhlas, di samping tuntutan memilih bacaan yang tidak mengantarkan kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah itu.
Bersama dengan seruan membaca, wahyu perdana di muka juga memadukan perintah menulis, yang tersirat dari kata : “al qalam” ‘pena’. Demikian pakar tafsir kontemporer memahami kata “qalam” sebagai segala macam alat tulis menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih. Anjuran menulis ini ditegaskan pada wahyu yang turun menyusul wahyu perdana itu.
‘Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.’ (Al Qalam:1)
Al Qur’an sendiri diberikan nama Al Kitab yang berarti ‘tulisan yang tercatat dalam lembaran’. Tersirat dari sini pentingnya menulis disamping membaca.
Perintah iqra’ mendorong agar umat manusia berpikir dan bertafakur mempergunakan potensi akalnya, sementara kata “Al Qalam” menyeru mereka untuk menulis dan mencatat (mengikat makna dan memonumenkan gagasan). Bisa dibayangkan bila ayat-ayat tersebut turun pada masyarakat yang tidak pandai membaca dan menulis (ummah ummiyah). Dari seruan ini lahir revolusi di masyarakat. Mereka menjadi gemar menulis dan mengkaji apa saja, ayat-ayat kauniyah, lebih-lebih ayat-ayat Al Qur’an.
Pada siang hari, masyarakat giat bekerja atau konsentrasi menuntut ilmu laksana singa, sementara malam hari mereka laksana pendeta tekun beribadah. Mereka tidak banyak tidur di malam hari demi shalat dan membaca ayat-ayat Al Qur’an. Di setiap malam, dari dalam rumah mereka, terdengar gema untaian ayat-ayat Al Qur’an. Di kota Madinah, pada dini hari terdengar suara gemuruh laksana gemuruh suara lebah, karena membaca Al Qur’an. Mereka juga bersemangat mengajarkan Al Qur’an dan membimbing umat di berbagai belahan bumi. Sementara dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai Al Qur’an dipraktikkan. Tidak ada penyembahan terhadap berhala. Tidak ada tradisi khamr, zina dan membunuh anak perempuan tidak berdosa. Berbagai tradisi jahiliyah terkikis dan berubah menjadi tradisi yang ber-tamaddun ‘beradab’. Secara otomatis, sejak itu lahirlah peradaban baru, peradaban Islam, karena dipicu oleh oleh Al Qur’an dan hanya dalam waktu tidak lebih dari 23 tahun. Peradaban itu tegar dan kokoh menandingi peradaban-peradaban yang telah ada sebelumnya.
Dari sini, bila bacaan dan materi Al Qur’an disuguhkan kepada suatu generasi muda dengan benar, maka sekitar dua puluh tahun kemudian akan lahir generasi yang qur’ani, yang elegan, bersahaja, dan progresif. Sebaliknya, bila suatu generasi dijauhkan dari Al Qur’an maka lihatlah pada masa dua puluh tahun kemudian akan muncul generasi yang ’sontoloyo’. Demikian penelitian dari isyarah masa diturunkannya Al Qur’an kepada Rasulullah saw.. O